Rahasia kajian paranormal Kisah wanita soleha Rabi’ah Al-Adawiyah

Salam Kajian Paranormal dimanapun berada. Kajian paranormal identik dengan masalah klenik dan goib bagi sebgaian orang mungkin dianggap mengerikan dan menakutkan.Namun bagi pelaku dunia metafisika atau paranormal sendiri dianggapnya suatu keunikan dan tantangan tersendiri. Setiap orang berbeda-beda dalam pemahamannya tentang metafisika itu sendiri.Dan ada juga yang mempunyai kelebihan pancaindra mereka sejak dari lahir sehingga dia mampu mendeteksi keberadaan dunia lain atau mahluk astral tersebut.Tidak jarang mereka yang mampunyai panca indra yang lebih cenderung mempunyai sifat yang aneh dibandingkan dengan

Dunia paranormal itu sendiri banyak macamnya, namun banyak orang yang terlalu sempit dalam memahami paranormal itu sendiri mereka cenderung memahaminya ke dunia perdukutan atau praktik dukun. Sebenarnya jauh dari itu lebih luas dan banyak manfaatnya dari segi kehidupan ini. Dan sebagai contoh dari dunia paranormal itu sendiri adalah Rahasia kajian paranormal Kisah wanita soleha Rabi’ah Al-Adawiyah, yang selalu mengusik dan membuat orang penasaran akan keaslian dan kenyataa kisahnya. Kecenderungan mereka melalui rasa ingin tahu yang besar terkadang juga banyak menimbulkan salah tafsir sehingga tidak sedikit yang mengalami salah jalan.

Dilihat dari sisi lainnya praktek paranormal sudah ada jauh dari jaman purbakala dulau, namun sifatnya berbeda dan caranyapun berbeda pula.Rahasia kajian paranormal Kisah wanita soleha Rabi’ah Al-Adawiyah pun mungkin sudah ada dari dulunya sadar atau tidak mungkin kita sudah pernah mendengar atau mengalaminya. Teori tentang praktek paranormalpun sudah banyak diceritakan di berbagai macam babat luluhur kita. Dan berbagai mitos atau kepercayaan yang menyertainya selalu identik dengan budaya dan tradisi. Namun seiring dengan perkembangan zaman dunia ini seperti ini mulai pudar dan banya segelintir orang saja yang mau mengembangkanya. Kalo menurutnya dunia seperti ini bila dikaji dengan kajian kaca mata Agama makan dapat meningkatkan keimanan kita. Kenapa karena kita tambah nyakin bahwa dunia dan seisinya ini tidaklah cuma kita yang menghuninya. Namun banyak makhluk lain yang menyertainya.

Dan jika kembali membicarakan Rahasia kajian paranormal Kisah wanita soleha Rabi’ah Al-Adawiyah seperti apa rincian dan penjelasanya serta apa manfaat yang tersirat didalmnya, bisa kita simak artikel berikut ini. Dan mohon untuk membacanya secara teliti dan perlahan-lahan karena bisa jadi anda akan salah dalam menafsirkanya.Yang paling penting adalah telusuri kaidah dan kajianya dalam segi keimanan kita.Jika dirasa ada tidak nyakin maka silahka untuk abaikan saja. Dan berikut kisahnya:

Rahasia kajian paranormal


“Orang yang cinta Allah itu hilang, dalam melihat Allah hingga lenyap dirinya, dan dia tidak boleh membezakan yang mana penderitaan dan yang mana kesenangan.”

Diambil dari buku yang ditulis oleh Farid Al-Din Attar

Rabi’ah Al-Adawiyah

Rabi’ah binti Ismail a-Adawiyah, berasal dari keluarga miskin. Dari kecil ia tinggal di Basrah. Di kota ini namanya sangat terkenal  sebagai seorang wanita solehah dan sebagai penceramah. Dia sangat dihormati oleh orang-orang soleh semasanya. Tarikh kematiannya terdapat berbagai pendapat: tahun 135H/752M atau tahun 185H/801M.

Rabi’ah al-Adawiyah yang seumur hidupnya tidak pernah berkahwin dianggap mendapat pahala yang besar dalam memperkenalkan cinta Allah ke dalam mistisme Islam. Orang-orang mengatakan bahawa ia dikuburkan berhampiran kota Jerussalem.

Rabi’ah lahir dan masa kanak-kanaknya

Jika engkau bertanya: “Mengapa engkau menyamakan Rabi’ah dengan kaum lelaki?” Maka jawabku adalah bahawa Nabi sendiri pernah berkata: “Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa kamu: dan yang menjadi masalah bukanlah bentuk, tetapi niat seperti yang dikatakan Nabi, “Manusia-manusia akan dimuliakan sesuai dengan niat di dalam hati mereka.” Selanjutnya, apabila kita boleh menerima dua pertiga ajaran agama dari Aisyah, maka sudah tentu kita boleh pula menerima petunjuk-petunjuk agama dari pelayan peribadinya itu. Apabila seorang perempuan berubah menjadi “seorang lelaki” pada jalan Allah, maka ia adalah sama dengan kaum lelaki dan kita tidak dapat menyebutnya sebagai seorang perempuan lagi.

Pada malam Rabi’ah dilahirkan ke dunia, tidak ada sesuatu barang berharga yang berada di dalam rumah orang tuanya, kerana ayahnya adalah seorang yang sangat miskin. Ayahnya tidak mempunyai minyak barang setitis pun untuk membersihkan pusat puterinya itu. Mereka tidak mempunyai lampu dan tidak mempunyai kain untuk menyelimuti Rabi’ah. Ayahnya telah memperoleh tiga orang puteri dan Rabi’ah adalah puterinya yang keempat. Itulah sebabnya mengapa ia dinamakan Rabi’ah.

“Pergilah kepada jiran kita dan mintalah sedikit minyak untuk menyalakan lampu,” isterinya berkata.

Tetapi si suami telah bersumpah bahawa ia tidak akan meminta sesuatu jua pun dari manusia lain. Maka ia berpura-pura menyentuhkan tangannya ke pintu rumah tetangga tersebut lalu kembali ke rumahnya.

“Mereka tidak mahu membukakan pintu,” ia memberitahu kepada isterinya apabila sesampainya di rumah.

Isterinya yang malang menangis sedih. Dlam keadaan yang serba menyedihkan itu si suami hanya dapat menundukkan kepala ke atas lutut dan terlena. Di dalam tidurnya ia bermimpi melihat Nabi.

Nabi memujuknya: “Jangan engkau bersedih, kerana bayi perempuan yang baru dilahirkan itu adalah ratu wanita dan akan menjadi penengah bagi 70 ribu orang di antara kaumku.” Kemudian Nabi meneruskan: “Esok, pergilah engkau menemui ‘Isa az-Zadan, Gabenor Basrah. Di atas sehelai kertas, tuliskan kata-kata seperti ini: “Setiap malam engkau mengirimkan selawat seratus kali kepadaku, dan setiap malam Jumaat empat ratus kali. Semalam adalah malam Jumaat tetapi engkau lupa melakukannya. Sebagai penebus kelalaianmu itu berikanlah kepada orang ini empat ratus dinar yang telah engkau dapati secara halal.”

Ketika terjaga dari tidurnya, ayah Rabi’ah menangis. Ia pun bangun dan menulis seperti yang telah dipesankan oleh Nabi kepadanya dan mengirimkannya kepada gabenor melalui pengurus rumahtangga di istana.

“Berikanlah dua ribu dinar kepada orang miskin,” gabenor memberikan perintah setelah membaca surat tersebut. “Sebagai tanda syukur kerana Nabi masih ingat kepadaku. Kemudian berikan  empat ratus dinar kepada syeikh itu dan katakan padanya: “Aku harap engkau datang kepadaku sehingga aku dapat melihat wajahmu. Namun tidaklah elok bagi seorang seperti kamu untuk datang menghadapku. Lebih baik seandainya akulah yang datang kepadamu. Walaupun demikian, demi Allah, aku bermohon kepadamu, apapun yang engkau perlukan katakanlah kepadaku.”

Ayah Rabi’ah menerima wang emas tersebut dan membeli keperluannya.

Ketika Rabi’ah semakin membesar, sedang ayah bondanya telah meninggal dunia, bencana kelaparan melanda kota Basrah, dan ia terpisah dari kakak-kakak perempuannya. Suatu hari ketika Rabi’ah keluar rumah, seorang penjahat menangkapnya kemudian menjualnya dengan harga enam dirham. Orang yang membeli dirinya menyuruh Rabi’ah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat.

Pada suatu hari ketika berjalan-jalan, seorang yang tidak dikenali datang menghampirinya. Rabi’ah melarikan diri, tiba-tiba ia terjatuh tergelincir sehingga tangannya terkehel.

Rabi’ah menangis sambil menghantuk-hantukkan kepalanya ke tanah: “Ya Allah, aku adalah seorang asing di negeri ini, tidak mempunyai ayah bonda, seorang tawanan yang tidak berdaya, sedang tanganku cedera. Namun semua itu tidak membuatku bersedih hati. Satu-satunya yang kuharapkan adalah dapat memenuhi kehendak-Mu dan mengetahui apakah Engkau berkenan atau tidak.”

“Rabi’ah, janganlah engkau berduka,” sebuah suara berkata kepadanya. “Di kemudian hari nanti engkau akan dimuliakan sehingga malaikat-malaikat iri kepadamu.”

Rabi’ah kembali ke rumah tuannya. Di siang hari ia terus berpuasa dan mengabdikan diri kepada Allah, sedang di malam hari ia berdoa kepada Allah sambil terus berdiri sepanjang malam.

Pada suatu malam tuannya terjaga dari tidur, apabila dia lalu di tepi tingkap dan terlihat olehnya Rabi’ah sedang bersujud dan berdoa kepada Allah.

“Ya Allah, Engkau tahu bahawa hasrat hatiku adalah untuk dapat memenuhi perintah-Mu dan mengabdikan diri kepada-Mu. Jika aku tidah mengubah nasib diriku ini, nescaya aku tidak akan beristirehat barang sebentar pun dari mengabdikan diri kepada-Mu. Tetapi Engkau telah menyerahkan diriku ke bawah kekuasaan seorang hamba-Mu.” Demikianlah kata-kata yang diucapkan Rabi’ah di dalam doanya itu.

Dengan mata kepalanya sendiri majikannya menyaksikan betapa sebuah lampu tergantung tanpa tali di atas kepala Rabi’ah sedang cahayanya menerangi seluruh rumah. Menyaksikan peritiwa ini, ia merasa takut. Ia lalu pergi ke bilik tidurnya dan duduk termenung sehingga subuh. Ketika hari telah terang ia memanggil Rabi’ah, bersikap lembut kepadanya kemudian membebaskannya.

“Izinkanlah aku pergi,” Rabi’ah berkata.

Tuannya membebaskannya. Rabi’ah lalu meninggalkan rumah tuannya menuju ke padang pasir untuk mengadakan perjalanan menuju ke sebuah pertapaan untuknya mengabdikan diri kepada Allah.

Kemudian ia berniat untuk menunaikan ibadah haji. Maka ia pun berangkat menempuh padang pasir kembali. Barang-barang miliknya diletak di atas punggung keldai. Tetapi apabila sampai di tengah-tengah padang pasir, keldai itu mati.

“Biarlah kami yang membawa barang-barangmu.” Lelaki-lelaki di dalam rombongan itu menawarkan jasa mereka.

“Tidak! Teruskanlah perjalanan kalian,” jawab Rabi’ah. “Bukan tujuanku untuk menjadi beban kalian.”

Rombongan itu meneruskan perjalanan dan meninggalkan Rabi’ah seorang diri.

“Ya Allah,” Rabi’ah berseru sambil menengadahkan kepala. “Demikiankah caranya raja-raja memperlakukan seorang wanita yang tidak berdaya di tempat yang masih asing baginya? Engkau telah memanggilku ke rumah-Mu, tetapi di tengah perjalanan engkau membunuh keldaiku dan meninggalkanku sebatang kara di tengah padang pasir ini.”

Belum lagi Rabi’ah selesai dengan kata-katanya ini, tanpa diduga-duga keldai itu terus berdiri. Rabi’ah meletakkan barang-barangnya ke atas punggung binatang itu dan meneruskan perjalanannya. (Tokoh yang meriwayatkan kisah ini mengatakan bahawa tidak berapa lama setelah peristiwa itu, ia melihat keldai kecil tersebut sedang dijual di pasar.)

Beberapa hari lamanya Rabi’ah meneruskan  perjalanannya menempuh padang pasir, sebelum ia berhenti, ia berseru kepada Allah: “Ya Allah, aku sudah letih. Ke arah manakah yang harus kutuju? Aku ini hanyalah segumpal tanah sedangkan rumah-mu dibuat dari batu. Ya Allah, aku bermohon kepada-Mu, tunjukkanlah diri-Mu.”

Allah berkata ke dalam sanubari Rabi’ah: “Rabi’ah, engkau sedang berada di atas sumber kehidupan lapan belas ribu dunia. Tidakkah engkau ingat betapa Musa telah bermohon untuk melihat wajah-Ku dan gunung-gunung terpecah-pecah menjadi empat puluh keping. Kerana itu merasa cukuplah engkau dengan nama-Ku sahaja!”

Rabi’ah dengan pencuri

Pada suatu malam ketika Rabi’ah sedang solat di sebuah pertapaan, ia merasa sangat letih sehingga ia jatuh tertidur. Sedemikian nyenyak tidurnya sehingga ketika matanya berdarah tertusuk alang-alang dari tikar yang ditidurnya, ia sama sekali tidak menyedarinya.

Seorang pencuri masuk menyelinap ke dalam pertapaan itu dan mengambil cadar Rabi’ah. Ketika hendak keluar dari tempat itu didapatinya bahawa jalan keluar telah tertutup. Dilepaskannya cadar itu dan ditinggalkannya tempat itu dan ternyata jalan keluar telah terbuka kembali. Cadar Rabi’ah diambilnya lagi, tetapi jalan jalan keluar tertutup kembali. Sekali lagi dilepaskannya cadar itu. Tujuh kali perbuatan seperti itu diulanginya. Kemudian terdengarlah oleh sebuah suara dari sudut pertapaan itu.

“Hai manusia, tiada gunanya engkau mencuba-cuba. Sudah bertahun-tahun Rabi’ah mengabdikan kepada Kami. Syaitan sendiri tidak berani datang menghampirinya. Jadi betapakah seorang pencuri memiliki keberanian hendak mencuri cadarnya? Pergilah dari sini hai manusia jahanam! Tiada gunanya engkau mencuba-cuba lagi. Jika seorang sahabat sedang tertidur maka Sang Sahabat bangun dan menjaganya.”

Rabi’ah dengan roti untuk tetamu

Dua orang pemuka agama datang mengunjungi Rabi’ah dan keduanya merasa lapar. “Mudah-mudahan Rabi’ah akan memberikan makanan kepada kita,” mereka berkata. “Makanan yang diberikan oleh Rabi’ah pasti diperolehi secara halal.”

Ketika mereka duduk, di depan mereka telah terhampar safrah dan di atasnya ada dua potong roti. Melihat hal itu mereka sangat gembira. Tetapi di saat itu pula seorang pengemis datang dan Rabi’ah memberikan kedua potong roti itu kepadanya. Kedua pemuka agama itu sangat kecewa, namun mereka tidak berkata apa-apa. Tidak berapa lama kemudian masuklah seorang pelayan wanita membawakan beberapa buah roti yang masih panas.

“Majikanku telah menyuruhku menghantarkan roti-roti ini kepadamu,” pelayan itu menjelaskan.

Rabi’ah mengira-ngira roti tersebut. Semua berjumlah lapan belas potong.

“Mungkin roti-roti ini bukan untukku,” Rabi’ah berkata.

Pelayan itu berusaha meyakinkan Rabi’ah namun sia-sia saja. Akhirnya roti-roti itu dibawanya kembali. Sebenarnya apa yang telah terjadi adalah bahawa pelayan itu telah mengambil dua potong untuk dirinya sendiri. Ia meminta dua potong lagi kepada majikannya kemudian ia kembali ke tempat Rabi’ah. Roti-roti itu dikira oleh Rabi’ah, ternyata semuanya ada dua puluh potong dan setelah itu barulah ia mahu menerimanya.

“Roti-roti ini memang telah dikirim oleh majikanmu untukku,” kata Rabi’ah.

Kemudian Rabi’ah memberikan roti-roti tersebut kepada kedua tetamunya tadi. Keduanya makan namun masih dalam keadaan hairan.

“Apakah rahsia di sebalik semua ini?” Mereka bertanya kepada Rabi’ah. “Kami ingin memakan rotimu sendiri tetapi engkau memberikannya kepada seorang pengemis. Kemudian engkau mengatakan kepada pelayan tadi bahawa kelapan belas roti itu bukan dimaksudkan untukmu. Tetapi kemudian ketika semuanya berjumlah dua puluh potong barulah engkau mahu menerimanya.”

Rabi’ah menjawab: “Sewaktu kamu datang, aku tahu bahawa kamu sedang lapar. Aku berkata kepada diriku sendiri, betapa aku menawarkan untuk memberikan dua potong roti kepada dua orang pemuka yang terhormat? Itulah sebabnya mengapa ketika pengemis tadi datang, aku segera memberikan dua potong roti itu kepadanya dan berkata kepada Allah Yang Maha Besar, “Ya Allah, Engkau telah berjanji bahawa Engkau akan memberikan ganjaran sepuluh kali dan janji-Mu itu kupegang teguh. Kini telah kusedekahkan dua potong roti untuk menyenangkan-Mu, semoga Engkau berkenan untuk memberikan dua puluh potong sebagai imbalannya. Ketika kelapan belas potong roti itu dihantarkan kepadaku, tahulah aku bahawa sebahagian darinya telah dicuri atau roti-roti itu bukan untuk disampaikan kepadaku.”

Rabi’ah dengan sup bawang

Pada suatu hari pelayan wanita Rabi’ah hendak memasak sup bawang kerana telah beberapa lamanya mereka tidak memasak makanan. Ternyata mereka tidak mempunyai bawang. Pelayannya berkata kepada Rabi’ah: “Aku hendak meminta bawang kepada tetangga sebelah.”

Tetapi Rabi’ah melarang: “Telah empat puluh tahun aku berjanji kepada Allah tidak akan meminta sesuatu pun kecuali kepada-Nya. Lupakanlah bawang itu.”

Setelah Rabi’ah berkata demikian, seekor burung meluncur dari angkasa, membawa bawang yang telah terkupas di paruhnya, lalu menjatuhkan ke dalam belanga.

Menyaksikan peristiwa itu Rabi’ah berkata: “Aku takut jika semua ini adalah seperti tipu muslihat.”

Rabi’ah tidak mahu menyentuh sup bawang tersebut. Hanya roti sajalah yang dimakannya.

Rabi’ah dengan binatang liar yang jinak

Pada suatu hari Rabi’ah pergi ke gunung. Ia segera dikerumuni oleh sekawan rusa, kambing hutan, ibeks (sebangsa kambing hutan yang bertanduk panjang) dan keldai-keldai liar. Binatang-binatang ini menatap Rabi’ah dan hendak menghampirinya. Tanpa disangka-sangka Hasan al-Basri datang pula ke tempat itu. Ketika melihat Rabi’ah, ia segera datang menghampirinya. Tetapi setelah melihat kedatangan Hasan, binatang-binatang tadi lari ketakutan dan meninggalkan Rabi’ah. Hal ini membuat Hasan kecewa.

“Mengapakah binatang-binatang itu menghindari dari diriku sedang mereka begitu jinak terhadapmu?” Hasan bertanya kepada Rabi’ah.

“Apakah yang telah engkau makan pada hari ini?” Rabi’ah balik bertanya.

“Sup bawang.”

“Engkau telah memakan lemak binatang-binatang itu. Tidak menghairankan jika mereka lari ketakutan melihatmu.”

Rabi’ah menegur Hasan

Di hari lain, Rabi’ah melalui hadapan rumah Hasan. Ketika itu Hasan termenung di jendela. Ia sedang menangis dan air matanya menitis jatuh mengenai pakaian Rabi’ah. Mula-mula Rabi’ah mengira hujan turun, tetapi setelah ia melihat ke atas dan terlihat olehnya Hasan, sedarlah ia bahawa yang jatuh menitis itu adalah air mata Hasan.

“Guru, menangis adalah petanda dari kelesuan rohani.” Ia berkata kepada Hasan. “Tahanlah air matamu. Jika tidak, di dalam dirimu akan menggelora samudera sehingga engkau tidak dapat mencari dirimu sendiri kecuali pada seorang  Raja Yang Maha Perkasa.”

Teguran itu tidak sedap didengar oleh Hasan, namun ia tetap menahan diri. Di belakang hari ia bertemu degan Rabi’ah di tepi sebuah danau. Hasan menghamparkan sejadahnya di atas air dan berkata kepada Rabi’ah, “Rabi’ah, marilah kita melakukan solat dua rakaat di atas air!”

Rabi’ah menjawab: “Hasan, jika engkau memperlihatkan karamah-karamahmu di tempat ramai ini, maka karamahmu itu haruslah yang tidak dimiliki oleh orang-orang lain.”

Sesudah berkata begitu Rabi’ah melemparkan sejadahnya ke udara, kemudian ia melompat ke atasnya dan berseru kepada Hasan: “Naiklah ke mari Hasan agar orang-orang dapat menyaksikan kita.”

Hasan yang belum mencapai kepandaian seperti itu tidak dapat berkata apa-apa. Kemudian Rabi’ah cuba menghiburkannya dan berkata: “Hasan, yang engkau lakukan tadi dapat pula dilakukan oleh seekor ikan dan yang kulakukan tadi dapat pula dilakukan oleh seekor lalat. Yang Terpenting bukanlah kemahiran-kemahiran seperti itu. Kita harus  mengabdikan diri kepada Hal-hal Yang Terpenting itu.”

Rabi’ah dengan lampu

Pada suatu malam Hasan beserta dua tiga orang sahabatnya berkunjung ke rumah Rabi’ah. Tetapi rumah itu gelap, tiada berlampu. Mereka merasa senang seandainya pada ketika itu ada lampu. Maka Rabi’ah meniup jari tangannya. Sepanjang malam itu hingga fajar, jari Rabi’ah memancarkan cahaya terang benderang bagaikan lampu dan mereka duduk di dalam cahaya.

Jika ada seseorang yang bertanya: “Bagaimanakah hal seperti itu boleh terjadi?” Maka jawapanku adalah: “Persoalannya adalah sama dengan tangan Musa.” Jika ia kemudian menyangkal: “Tetapi Musa adalah seorang Nabi!” Maka jawapanku: “Barangsiapa yang mengikuti jejak Nabi akan mendapatkan sedikit kenabian, seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi Muhammad sendiri.”

“Barangsiapa menolak harta benda yang tidak diperolehi secara halal, walaupun harganya satu sen, sesungguhnya ia telah mencapai suatu tingkai kenabian.” Nabi Muhammad juga pernah berkata: “Sebuah mimpi yang benar adalah satu perempat puluh dari kenabian.”

Nasihat Rabi’ah

Pada suatu ketika Rabi’ah mengirimkan sepotong lilin, sebuah jarum dan sehelai rambut kepada Hasan, dengan pesanan, “Hendaklah engkau seperti sepotong lilin, sentiasa menerangi dunia walaupun diri sendiri terbakar, Hendaklah engkau menjadi sebuah jarum, sentiasa berbakti walaupun tidak memiliki apa-apa. Apabila kedua hal  itu telah engkau lakukan maka bagimu seribu tahun hanyalah seperti rambut ini.”

“Apakah engkau mengkehendaki agar kita berkahwin?” tanya Hasan kepada Rabi’ah.

“Tali perkahwinan hanyalah untuk orang-orang yang memiliki keakuan. Di sini keakuan telah hilang, telah menjadi tiada dan hanyalah ada melalui Dia. Aku adalah milik-Nya. Aku hidup di bawah naungan-Nya. Engkau harus melamar diriku daripada-Nya, buka secara langsung kepada diriku sendiri.”

“Bagaimanakah engkau telah bertemu dengan rahsia ini, Rabi’ah?” tanya Hasan.

“Aku lepaslah segala yang telah kuperolehi kepada-Nya,” jawab Rabi’ah.

“Bagaimana engkau telah dapat mengenal-Nya?”

“Hasan, engkau lebih suka bertanya, tetapi aku lebih suka menghayati,” jawab Rabi’ah.

Rabi’ah menasihati orang sakit

Suatu hari Rabi’ah bertemu dengan seseorang yang kepalanya dibalut.

“Mengapa engkau membalut kepalamu?” tanya Rabi’ah.

“Kerana aku merasa pening,” jawab lelaki itu.

“Berapa umurmu?” Rabi’ah bertanya lagi.

“Tiga puluh tahun,” jawabnya.

“Apakah engkau banyak menderita sakit dan merasa susah di dalam hidupmu?”

“Tidak,” jawabnya lagi.

“Selama tiga puluh tahun engkau menikmati hidup yang sihat, engkau tidak pernah mengenakan selubung kesyukuran, tetapi baru malam ini saja kepalamu terasa sakit engkau telah mengenakan selubung keluh kesah,” kata Rabi’ah.

Rabi’ah mengirim selimut

Suatu hari Rabi’ah menyerahkan wang empat dirham kepada seorang lelaki.

“Belikanku sehelai selimut kerana aku tidak mempunyai pakaian lagi,” kata Rabi’ah.

Lelaki itu pun pergi, tetapi tidak lama kemudian ia kembali dan bertanya kepada Rabi’ah: “Selimut berwarna apakah yang harus kubeli?”

“Apa peduliku dengan warna? Pulangkan wang itu kepadaku kembali,” Rabi’ah berkata.

Rabi’ah dengan keasyikannya

Suatu hari di musim bunga, Rabi’ah memasuki tempat tinggalnya, kemudian menjenguk keluar kerana pelayannya berseru: “Ibu, keluarlah dan saksikanlah apa yang telah dilakukan oleh Allah Maha Pencipta.”

“Lebih baik engkaulah yang masuk ke mari,” Rabi’ah menjawab, “Dan saksikanlah Allah Pencipta itu sendiri. Aku sedemikian asyik menatap Allah Yang Maha Pencipta sehingga aku tidak menghiraukan lagi terhadap ciptaan-ciptaan-Nya.”

Rabi’ah memotong daging

Beberapa orang datang mengunjungi Rabi’ah dan menyaksikan ia sedang memotong seketul daging dengan giginya.

“Apakah engkau tidak mempunyai pisau untuk memotong daging itu? Mereka bertanya.

“Aku tidak pernah menyimpan pisau di dalam rumah ini kerana takut terluka,” jawab Rabi’ah.

Rabi’ah berpuasa

Rabi’ah berpuasa selama seminggu. Sepanjang berpuasa itu ia tidak makan dan tidak tidur. Setiap malam ia asyik mengerjakan solat dan berdoa. Lapar yang dirasakannya sudah tidak tertahan lagi. Seorang tetamu masuk ke rumah Rabi’ah membawa semangkuk makanan. Rabi’ah menerima makanan itu. Kemudian ia pergi mengambil lampu. Ketika itu ternyata seekor kucing telah melanggar mangkuk itu.

“Akan kuambil sekendi air dan aku akan berbuka puasa,” Rabi’ah berkata.

“Ketika ia kembali dengan sekendi air ternyata lampu telah padam. Ia hendak meminum air itu dalam kegelapan tetapi kendi itu terlepas dari tangannya dan jatuh, pecah bertaburan. Rabi’ah meratap dan mengeluh sedemikian menyayat hati seolah-olah sebahagian rumahnya telah dimakan api.

Rabi’ah menangis: “Ya Allah, apakah yang telah Engkau perbuat terhadap hamba-Mu yang tidak berdaya ini?”

“Berhati-hatilah Rabi’ah,” sebuah seruan terdengar di telinganya. “Janganlah engkau sampai mengharapkan bahawa Aku akan memberikan semua kenikmatan dunia kepadamu sehingga pengabdianmu kepada-Ku lenyap dalam hatimu. Pengabdian kepada-Ku dan kenikmatan-kenikmatan dunia tidak dapat dipadukan di dalam satu hati. Rabi’ah, engkau menginginkan suatu hal sedang Aku menginginkan hal yang lain. Hasrat-Ku dan hasratmu tidak dapat dipadukan di dalam satu hati.”

Setelah mendengar celaan ini, Rabi’ah berkata: “Kulepaskan hatiku dari dunia dan kubuang segala keinginan dalam hatiku sehingga selama tiga puluh tahun yang terakhir ini, apabila melakukan solat, maka aku menganggapnya sebagai solatku yang terakhir.”

Rabi’ah diuji lelaki

Beberapa orang mengunjungi Rabi’ah untuk mengujinya. Mereka ingin memerangkap Rabi’ah dengan mengucapkan kata-kata yang tidak difikirkannya terlebih dahulu.

“Segala macam kebajikan telah dibahagikan kepada setiap kaum lelaki. Mahkota kenabian telah diletakkan di kepala kaum lelaki. Tali kebangsawanan telah diikatkan di pinggang kaum lelaki. Tidak ada seorang perempuan pun yang telah diangkat oleh Allah menjadi Nabi,” mereka berkata.

“Semua ini memang benar. Tetapi kesombongan, memuja diri sendiri dan ucapan: “Bukankah aku Tuhanmu Yang Maha Tinggi” tidak pernah bertapak di dalam dada perempuan. Dan tidak ada seorang perempuan pun yang menghitung. Semua ini adalah bahagian kaum lelaki.”

Rabi’ah sakit tenat

Ketika Rabi’ah menderita sakit yang tenat, ditanya kepadanya apakah penyebab penyakitnya itu.

“Aku telah melihat syurga dan Allah telah menghukum diriku,” jawab Rabi’ah.

Kemudian Hasan al-Basri datang untuk mengunjungi Rabi’ah.

“Aku mendapati salah seorang pemuka kota Basrah berdiri menunggu di pintu pertapaan Rabi’ah. Ia hendak memberikan sebekas emas kepada Rabi’ah dan ia menangis. Aku bertanya kepadanya: “Mengapakah engkau menangis?” Jawabnya: “Aku menangis kerana wanita solehah zaman ini. Kerana jika berkah hidupnya tidak ada lagi, celakalah umat manusia. Aku telah membawakan wang sekadar untuk membiayai perawatannya tetapi aku khuatir kalau-kalau Rabi’ah tidak mahu menerimanya. Pujuklah Rabi’ah agar ia mahu menerima wang ini.”

Maka masuklah Hasan ke dalam pertapaan Rabi’ah dan memujuknya untuk menerima wang itu. Rabi’ah memandang Hasan dan berkata, “Dia telah menafkahi orang-orang yang menghujah-Nya. Apakah Dia tidak akan menafkahi orang-orang yang mencintai-Nya?” Sejak aku mengenal-Nya, aku telah berpaling dari manusia ciptaan-Nya. Aku tidak tahu apakah kekayaan seseorang itu halal atau tidak, maka betapakah aku dapat menerima pemberiannya? Pernah aku menjahit pakaian yang koyak dengan diterangi lampu dunia. Beberapa saat hatiku lalai tetapi akhirnya akupun sedar. Pakaian itu kukoyak semula kepada bahagian-bahagian yang telah kujahit itu dan hatiku menjadi lega. Mintalah kepadanya agar ia tidak membuat hatiku lalai lagi.”

Rabi’ah yang sakit menerima kunjungan sahabat

Abdul Wahid Amir mengisahkan bahawa ia bersama Sufyan ats-Tsauri menziarahi Rabi’ah ketika sakit tetapi kerana segan mereka tidak berani menegurnya.

“Engkaulah yang berkata,” kataku kepada Sufyan.

“Jika engkau berdoa nescaya penderitaanmu ini akan hilang.”

Rabi’ah menjawab: “Tidakkah engkau tahu siapa yang menhendaki aku menderita seperti ini? Bukankah Allah?”

“Ya,” Sufyan membenarkan.

“Betapa mungkin, engkau menyuruhku untuk memohon hal yang bertentangan dengan kehendak-Nya? Bukankah tidak baik apabila kita menentang Sahabat kita sendiri?”

“Apakah yang engkau inginkan, Rabi’ah?” Sufyan bertanya pula.

“Sufyan, engkau adalah seorang yang terpelajar! Tetapi engkau bertanya demikian? Demi kebesaran Allah telah dua belas tahun lamanya aku menginginkan buah kurma segar. Engkau tentu tahu bahawa di kota Basrah buah kurma sangat murah harganya, tetapi hingga saat ini aku tidak pernah memakannya. Aku ini hanyalah hamba-Nya dan apakah hak seorang hamba untuk menginginkan sesuatu? Jika aku menginginkan sesuatu sedang Allah tidak menginginkannya, maka kafirlah aku. Engkau harus menginginkan segala sesuatu yang diinginkan-Nya semata-mata agar engkau dapat menjadi hamba-Nya yang sejati. Tetapi lainlah persoalannya jika Tuhan sendiri memberikannya.”

Sufyan terdiam. Kemudian ia berkata kepada Rabi’ah: “Kerana aku tidak dapat berbicara tentang dirimu, maka engkaulah yang berbicara tentang diriku.”

“Engkau adalah manusia yang baik kecuali dalam satu hal: Engkau mencintai dunia. Engkau pun suka membacakan hadis-hadis.” Yang terakhir ini dikatakan Rabi’ah dengan maksud bahawa membacakan hadis-hadis tersebut adalah suatu perbuatan yang mulia.

Sufyan merasa sangat susah hati dan memohon: “Ya Allah, kasihilah aku!”

Tetapi Rabi’ah mencelanya dengan berkata: “Tidak malukah engkau mengharapkan kasih Allah sedangkan engkau sendiri tidak mengasihi-Nya?”

Rabi’ah menasihati Malik bin Dinar

Malik bin Dinar mengisahkan sebagai berikut: Ketika mengunjungi Rabi’ah, kulihat dia menggunakan gayung pecah untuk minum dan bersuci, sehelai tikar dan sebiji batu-bata yang kadang-kadang digunakannya sebagai bantal. Menyaksikan semua itu hatiku menjadi sedih.

“Aku mempunyai ramai kawan yang kaya, jika engkau menghendaki sesuatu akan kumintakan kepada mereka,” aku berkata kepada Rabi’ah.

“Malik, engkau telah melakukan kesalahan yang besar. Bukankah yang menafkahi aku dan yang menafkahi mereka adalah satu?’ soal Rabi’ah.

“Ya,” jawabku.

“Apakah yang memberi kepada orang-orang miskin itu lupa kepada orang-orang miskin kerana kemiskinan mereka? Dan apakah Dia ingat kepda orang-orang yang kaya kerana kekayaan mereka?” tanya Rabi’ah.

“Tidak,” jawabku.

“Jadi, kerana Dia mengetahui keadaanku, bagaimanakah aku harus mengingatkan-Nya? Beginilah yang dikehendaki-Nya, dan aku menghendaki seperti yang dikehendaki-Nya,” Rabi’ah menerangkan lagi.

Rabi’ah dengan ucapan-ucapan sahabatnya

Pada suatu hari, Hasan al-Basri, Malik bin Dinar dan Syaqiq al-Balkhi mengunjungi Rabi’ah yang sedang terbaring dalam keadaan sakit.

“Seorang manusia tidak dapat dipercayai kata-katanya jika ia tidak tabah menanggung ujian dari Allah,” kata Hasan memulai percakapannya.

“Kata-katamu itu menunjukkan engkau seorang yang ego,” Rabi’ah membalas.

Kemudian giliran Syaqiq pula berkata: “Seorang manusia itu tidak dapat dipercayai kata-katanya jika ia tidak bersyukur atas pemberian Allah.”

“Ada perkara yang lebih baik daripada itu,” jawab Rabi’ah.

Malik bin Dinar pula berkata: “Seorang manusia tidak dapat dipercayai kata-katanya jika ia tidak merasa bahagia ketika menerima ujian Allah.”

“Masih ada yang lebih baik daripada itu,” Rabi’ah mengulangi jawapannya.

“Jika demikian, katakanlah kepada kami,” mereka mendesak Rabi’ah.

Maka Rabi’ah berkata: “Seorang manusia tidak dapat dipercayai kata-katanya jika ia tidak lupa kepada ujian dari Allah, ketika ia merenungkan-Nya.”

Rabi’ah dengan seorang cendikiawan

Seorang cerdik pandai yang  terkemuka di kota Basrah mengunjungi Rabi’ah yang sedang terbaring sakit. Sambil duduk di sisi Rabi’ah ia mencaci maki dunia.

Rabi’ah berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau sangat mencintai dunia ini, Jika engkau tidak mencintai dunia tentu engkau tidak akan menyebut-nyebutnya berulangkali seperti ini. Seorang pembelilah yang sentiasa mencela barang-barang yang hendak dibelinya. Jika engkau tidak merasa berkepentingan dengan dunia ini tentulah engkau tidak akan memuji-muji atau memburuk-burukkannya. Engkau menyebut-nyebut dunia ini seperti kata peribahasa, barangsiapa mencintai sesuatu hal maka ia sering menyebut-nyebutnya.”

Saat Rabi’ah meninggal dunia

Ketika tiba saatnya Rabi’ah harus meninggalkan dunia fana’ ini, orang-orang yang menziarahinya meninggalkan kamarnya dan menutup pintu kamar itu dari luar. Setelah itu mereka mendengar suara yang berkata: “Wahai jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dengan berbahagia.”

Beberapa saat kemudian tidak ada lagi suara yang terdengar dari kamar Rabi’ah. Mereka lalu membuka pintu kamar itu dan mendapatkan Rabi’ah telah meninggal dunia.

Setelah Rabi’ah meninggal dunia, ada yang bertemu dengannya dalam sebuah mimpi. Kepadanya ditanyakan.

“Bagaimanakah engkau menghadapi Munkar dan Nakir?”

Rabi’ah menjawab: “Kedua malaikat itu datang kepadaku dan bertanya: “Siapakah Tuhanmu?” Aku menjawab: “Pergilah kepada Tuhanmu dan katakan kepada-Nya: “Di antara beribu-ribu makhluk yang ada, janganlah Engkau melupakan seorang wanita tua yang lemah. Aku hanya memiliki Engkau di dunia yang luas, tidak pernah lupa kepada-Mu, tetapi mengapakah Engkau mengirimkan utusan sekadar menanyakan “Siapakah Tuhanmu” kepadaku?”

Doa-doa Rabi’ah

“Ya Allah, apa pun yang akan Engkau kurniakan kepadaku di dunia ini, berikanlah kepada musuh-musuh-mu, dan apa pun yang akan Engkau kurniakan kepadaku di akhirat nanti, berikanlah kepada sahabat-sahabat-Mu, kerana Engkau sendiri cukuplah bagiku.”

“Ya Allah, jika aku menyembah-Mu kerana takut kepada neraka, bakarlah aku di dalam neraka; dan jika aku menyembah-Mu kerana mengharapkan syurga, campakkanlah aku dari dalam syurga; tetapi jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, jangan Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi kepadaku.”

“Ya Allah, segala jerih payahku dan semua hasratku di antara segala kesenangan dunia ini adalah untuk mengingati Engkau. Dan di akhirat nanti, di antara segala kesenangan akhirat, adalah untuk berjumpa dengan-Mu. Begitulah halnya diriku, seperti yang telah kukatakan. Kini, perbuatlah seperti yang Engkau kehendaki.”

Judul :Rahasia kajian paranormal Kisah wanita soleha Rabi’ah Al-Adawiyah
Link :Rahasia kajian paranormal Kisah wanita soleha Rabi’ah Al-Adawiyah

Artikel terkait yang sama:


Rahasia kajian paranormal Kisah wanita soleha Rabi’ah Al-Adawiyah

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Rahasia kajian paranormal Kisah wanita soleha Rabi’ah Al-Adawiyah"

Posting Komentar